Kegiatan touring dan gathering klub motor besar seringkali melibatkan perjalanan ke berbagai area wisata favorit. Namun, pengalaman yang seharusnya menyenangkan ini tak jarang dirusak oleh praktik ilegal berupa pungutan liar (pungli). Harley-Davidson Club Indonesia (HDCI) Bandung, yang sering menyelenggarakan touring ke destinasi populer di Jawa Barat, kini memimpin upaya untuk membangun strategi klub moge yang efektif dalam melawan pungli di jalur-jalur wisata. Inisiatif ini bukan hanya tentang melindungi keuangan anggota, tetapi juga tentang menegakkan supremasi hukum dan menciptakan lingkungan pariwisata yang lebih jujur.
Pungutan liar di area wisata favorit bisa berbentuk bermacam-macam, mulai dari biaya parkir yang tidak wajar, karcis masuk palsu, hingga permintaan ‘uang keamanan’ oleh oknum tertentu. Bagi pengendara moge, yang sering kali dianggap memiliki kemampuan finansial lebih, mereka sering dijadikan target utama oleh para pelaku pungli. Jika dibiarkan, praktik pungutan liar ini tidak hanya merugikan anggota klub secara finansial, tetapi juga merusak citra pariwisata daerah yang seharusnya ramah wisatawan.
HDCI Bandung menyadari bahwa strategi klub moge melawan pungli tidak bisa hanya bersifat reaktif. Klub telah merumuskan pendekatan yang terstruktur. Pertama, edukasi dan dokumentasi. Sebelum touring, anggota dibekali pengetahuan mengenai tarif resmi dan diminta untuk mendokumentasikan setiap indikasi pungutan liar, baik melalui foto, video, atau catatan lokasi. Dokumentasi ini menjadi bukti kuat yang dapat digunakan untuk laporan resmi.
Kedua, koordinasi aktif. Strategi klub moge ini melibatkan koordinasi langsung dengan aparat penegak hukum setempat, seperti kepolisian (Sabara atau Bhabinkamtibmas) dan pemerintah daerah (Dinas Pariwisata). HDCI Bandung tidak bertindak sebagai penegak hukum sendiri, melainkan sebagai pelapor yang kredibel dan mitra bagi pihak berwenang. Klub menuntut agar ada patroli rutin di area wisata favorit dan tindakan tegas terhadap oknum pelaku pungutan liar.
Ketiga, advokasi publik. HDCI Bandung menggunakan pengaruhnya di media sosial untuk mengangkat isu ini ke ranah publik, menekan otoritas terkait untuk bertindak. Dengan memaparkan data dan lokasi spesifik di mana pungutan liar terjadi, klub memaksa adanya respons cepat dari pemerintah daerah yang tidak ingin nama baik daerah wisatanya tercorehi. Strategi klub moge ini efektif karena mengombinasikan kekuatan internal komunitas dengan tekanan dari opini publik.
